Pernyataan itu mengungkap perubahan penting dalam orientasi pertanian daerah. Jika selama ini petani Malaka lebih banyak bergantung pada komoditas musiman seperti padi dan jagung, kini mulai muncul kesadaran bahwa tanaman hortikultura dan buah-buahan memiliki prospek pasar yang semakin menjanjikan karena permintaannya berlangsung hampir sepanjang tahun.
Program MBG menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan tersebut. Setiap dapur MBG membutuhkan pasokan buah segar setiap hari. Selama ini, sebagian kebutuhan itu masih didatangkan dari luar Kabupaten Malaka, seperti Belu dan Kota Kupang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar sebenarnya telah tersedia, tetapi produksi lokal belum mampu memenuhi permintaan.
Louk Kombet melihat celah itu sebagai peluang usaha.
Dari total 10 hektar lahan yang dimiliki, baru empat hektar dimanfaatkan sebagai tahap awal. Menurut dia, pengembangan dilakukan secara bertahap agar produksi tetap seimbang dengan kemampuan pasar menyerap hasil panen.
“Empat hektar ini kami jadikan contoh produksi. Ke depan kami akan perluas, tentu dengan memperhatikan pangsa pasar agar produksi bisa terserap dengan baik,” ujarnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
