“Memang di Kecamatan Rinhat, Io Kufeu, dan Kobalima Timur terdapat banyak lahan miring sehingga penggunaan ekskavator lebih efektif. Tetapi bukan berarti wilayah dataran rendah tidak mendapat layanan. Jika ada lahan yang membutuhkan penanganan dengan alat berat, tetap akan dikerjakan,” katanya.
Laurens juga menyoroti keberhasilan program pengolahan lahan tahun 2025 yang mencapai target 3.000 hektare. Menurutnya, mayoritas petani kini telah memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam jagung.
Untuk memastikan seluruh lahan yang telah diolah benar-benar produktif, Dinas Pertanian telah menginstruksikan seluruh camat dan kepala desa melakukan pemantauan langsung di lapangan.
“Kami sudah menyurati seluruh camat dan kepala desa agar memonitor masyarakat yang lahannya sudah diolah tetapi belum ditanami jagung. Jangan sampai lahan yang sudah dikerjakan justru dibiarkan kosong,” tegasnya.
Selain mengimbau petani segera menanam jagung setelah lahan selesai diolah, pihaknya juga mendorong masyarakat menanam tanaman pembatas seperti bambu di sekitar areal pertanian.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
