“Tapi harus melihat secara ril karena setiap paket yang dipacking itu berdasarkan perhitungan kebutuhan gizi anak usia sekolah dasar yang mencakup energi, protein, lemak dan karbohidrat. Seperti tempe, tahu dan kacang itu merupakan sumber protein nabati, roti, nasi, kue sebagai karbohidrat dan salak sebagai sumber energi cepat dan mineral. Jadi, seluruhnya dihitung agar memenuhi kecukupan gizi dimana sesuai dengan pedoman atau standar yang ada, “terangnya.
Dikatakannya, berdasarkan pedoman dari Badan Gizi Nasional(BGN) memberikan ruang variasi menu dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
“Jadi, keberadaan sayur atau lauk hewani tidak harus muncul pada setiap kali penyajian.Melainkan diatur melalui rotasi menu harian dan mingguan agar keseimbangan gizi tercapai secara menyeluruh. Pada dasarnya MBG merupakan intervensi gizi terukur dan bukan pengganti makan utama, “pungkasnya.
Sebelumnya, menu dapur SPPG tersebut viral di media sosial karena berisi nasi lebih banyak, tahu sepotong, telur sepotong , salak dan sayur buncis. Mereka menilai pengelola dapur MBG bekerja secara tidak profesional dan tidak sesuai standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional(BGN). ***
