Ia juga mendorong agar pola kerja dilakukan secara mandiri tetapi terkoordinasi. Setiap keluarga bisa menanam sendiri di pekarangan, namun penjualan dilakukan secara berkelompok agar mampu memenuhi kebutuhan dapur MBG yang cukup besar setiap hari.
“Kerjanya masing-masing, tapi jualnya berkelompok. Dengan begitu kebutuhan dapur bisa terpenuhi dan semua petani juga dapat penghasilan,” tambahnya.
Menurut Jimmi, pemerintah desa memiliki peran penting untuk mengoordinasikan hal tersebut. Kepala desa diharapkan dapat memfasilitasi komunikasi antara kelompok petani dengan dapur MBG sehingga kebutuhan berbagai jenis sayuran dapat dipasok langsung dari desa-desa sekitar.
Jika langkah ini dilakukan secara terencana, program MBG tidak hanya menjamin ketersediaan bahan pangan, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani desa.
Kisah Jimmi menjadi bukti bahwa pekarangan rumah yang sederhana pun bisa menjadi sumber ekonomi, asalkan dimanfaatkan dengan kreativitas, kerja keras, dan koordinasi yang baik antarwarga.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






