Langkah tersebut menjadi kunci apabila Malaka ingin berkembang sebagai sentra pisang. Keberhasilan daerah penghasil buah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tanaman, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kontinuitas pasokan, kualitas produk, standar panen, distribusi, hingga kemitraan dengan pembeli.
Saat ini peluang pasar mulai terbuka. Louk Kombet mengaku telah dihubungi pengelola dapur MBG serta pedagang dari Atambua, Kefamenanu, dan Kupang yang berminat menyerap hasil panennya. Namun, ia menyadari bahwa pasar tidak boleh hanya bergantung pada pembeli musiman.
Di sisi lain, sejumlah tantangan masih membayangi. Keterbatasan pupuk, minimnya peralatan penyiangan, belum tersedianya fasilitas pascapanen, serta belum adanya pusat pengumpulan dan distribusi buah menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian. Tanpa dukungan tersebut, peningkatan produksi berisiko tidak memberikan nilai tambah yang optimal bagi petani.
Pengembangan pisang sebenarnya sejalan dengan arah pembangunan pertanian Pemerintah Kabupaten Malaka dalam RPJMD 2025–2030 yang menekankan optimalisasi lahan kering, peningkatan pendapatan petani, diversifikasi komoditas, serta penguatan ketahanan pangan daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
