“Kami menargetkan minimal tiga perawat bersertifikat sebagai syarat awal pembukaan layanan hemodialisa,” jelasnya.
Selain itu, satu dokter spesialis penyakit dalam tengah mengikuti pelatihan hemodialisa bersertifikasi Kementerian Kesehatan sejak Januari 2026 dan dijadwalkan kembali pada Juni 2026. Sementara itu, satu dokter umum juga mengikuti pelatihan khusus hemodialisa selama satu bulan di RSCM Jakarta.
“Seluruh tenaga medis ditargetkan sudah siap bertugas pada Juni 2026, sehingga layanan bisa segera dibuka sesuai target,” tambahnya.
Setelah kesiapan alat dan SDM terpenuhi,pihaknya akan melanjutkan proses pengurusan izin operasional serta menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Malaka, Dinas Kesehatan, serta pihak Kementerian Kesehatan guna mendapatkan dukungan, baik dari segi anggaran, regulasi, maupun pendampingan teknis, ” ungkapnya.
Dokter Oktelin mengutarakan,jka layanan ini resmi beroperasi, diperkirakan puluhan hingga ratusan pasien ginjal di wilayah Malaka, Belu, dan TTU akan sangat terbantu.














