Scroll untuk baca artikel

Warga Desa BoEn Mengaku Terpaksa Setujui Pemotongan BLT dan Tunjangan

Avatar photo
×

Warga Desa BoEn Mengaku Terpaksa Setujui Pemotongan BLT dan Tunjangan

Sebarkan artikel ini
Reporter : Wilfridus Wedi Editor: Ewilson
Screenshot_20260805_074809 (1)
Foto: Warga Desa BoEn, Yustus Kase dan Maria Neno Tafuli saat memberikan keterangan pers kepada wartawan, Minggu, (8/2/2026)

Menurut dia, ancaman tersebut membuat warga tidak memiliki keberanian untuk menolak.

“Sebagai masyarakat kecil, kami terpaksa menerima karena takut. Padahal pemotongan itu sangat merugikan kami sebagai penerima BLT,” ujarnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Advertising

Pengakuan serupa disampaikan Maria Neno Tafuli. Ia mengaku menandatangani persetujuan bukan karena rela, melainkan karena merasa berada dalam posisi yang tidak memiliki pilihan.

Baca Juga :  DPRD Belu-Malaka Bahas 6 Poin Penting untuk Wujudkan Free Trade Zone di Perbatasan RI-RDTL

“Sebagai warga, kami takut dengan ancaman seperti itu, sehingga harus merelakan BLT kami dipotong satu bulan, walaupun dalam hati kami tidak terima,” ungkap Maria.

Kepala Desa Akui Pemotongan, Bantah Ada Paksaan

Baca Juga :  Restrukturisasi Birokrasi, Bupati SBS Tekankan Tiga Hal Penting Yang Harus Dijalankan Oleh ASN 

Dikonfirmasi secara terpisah melalui pesan WhatsApp pada Minggu (8/2/2026), Kepala Desa BoEn, Viktor Nasi Ato, membenarkan adanya pemotongan BLT dan berbagai tunjangan selama satu bulan. Namun, ia membantah tudingan bahwa persetujuan warga diperoleh melalui tekanan.

Baca Juga :  Pencopotan Tiga Perangkat Desa BoEn Disorot, Diduga Langgar Mekanisme dan Diwarnai Aroma Politik

“Saya tidak menekan mereka. Penandatanganan dokumen persetujuan dilakukan secara sukarela tanpa paksaan dari kepala desa atau pihak mana pun,” kata Viktor.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM

+ Gabung