Sayangnya, pada musim tanam(MT) II, masyarakat setempat kebanyakan tidak tanam jagung karena kondisi lahannya masih tergenang air.
“Jadi,pada MT II mereka lebih memilih untuk tanam kacang,sayur, lombok dan tomat ketimbang tanam jagung. Kenapa? Karena pada bulan Mei-Juni hujannya masih turun. Jadi kalau pada bulan itu mereka paksa tanam jagung banyak yang tidak tumbuh subur karena kadar airnya masih tinggi yang tergenang disekitar lahan pertanian mekere.Sehingga pada MT II masyarakat disini kebanyakan tidak tanam jagung dengan alasan takut terendam air ataupun tersapu banjir yang merupakan kiriman dari wilayah Timor Tengah Selatan (TTU) sebagian dari Timor Tengah Selatan (TTS) dan sebagian lagi dari wilayah Belu, “pungkasnya.
Ia mengatakan,masyarakat mulai tanam jagung pada bulan Juli-awal September yang masyarakat disini biasa sebut musim ‘auklean’ atau musim tanam(MT) III.
“Karena mereka merasa pada bulan itu intensitas hujannya sudah tidak terlalu tinggi,airnya sudah tidak tergenang lagi di sekitar area pertanian, kondisi tanahnya juga subur dan cocok untuk tanam jagung pada musim itu.Dan proses panennya diperkirakan akan terjadi pada bulan November sampai awal Desember, dan hasilnya cukup bagus dan memuaskan. Kemudian,dari hasil itu mereka bisa jual untuk kebutuhan mereka sehari-hari,”terangnya.
