Bonifasius menuturkan, pada tahun 2021 sampai 2024 petani yang ada di wilayah sini hanya tanam pada musim pertama(MT I)
“Dan sepanjang tahun itu, tingkat produktivitas gabahnya berbeda-berbeda tergantung dari luas lahan yang diolah. Kalau saya punya luas lahan 1/2 hektar dan hasil gabah yang saya peroleh 60-70 karung berukuran besar.Sementara para petani lainnya yang memiliki luas lahan 1 hektare tingkat produksi gabahnya bisa mencapai 100-120 karung yang berukuran besar ,”katanya.
Kemudian, memasuki musim tanam kedua(MT II)sepanjang tahun itu terang Bonifasius,banyak petani secara khusus Desa Lakulo banyak yang tidak tanam padi.
“Hal ini dikarenakan pasokan air yang mengairi persawahan yang ada sangat minim karena jaringan irigasi primer Bendung Benenai rusak dihantam badai seroja pada 2021 silam, ” ucapnya.
Kemudian memasuki tahun 2025,para petani merasa senang karena hilir-hilir sawah yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pasokan air kini terairi secara merata.
“Dan ini semua berkat perjuangan dari bapak Bupati SBS dan Wakil Bupati HMS yang sudah membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II(BWS NT II) untuk merehabilitasi jaringan irigasi primer yang sebelumnya rusak dihantam badai seroja dan kini air di irigasi tersebut sudah lancar,para petani pun senyum.Terimakasih bapak Bupati SBS dan bapak Wakil HMS yang sudah peduli petani” tuturnya.












