Lanjutnya, pada musim pertama (MT I) tahun 2025 dengan sistem pengairan yang lancar dan merata tingkat produktivitas gabah sedikit meningkat dari luas lahan yang diolah.
“Misalnya,pada MT I 2025 saya olah lahan sekitar 1/2 hektar dan hasil produksi gabahnya meningkat 70-90 karung dan hasil ini berbeda dengan tahun sebelumnya dimana pada musim pertama saya olah lahan yang sama tapi hasil gabahnya 60-70 karung.Sementara para petani lainnya yang memiliki lahan persawahan 1 hektar hasil gabahnya stagnan sekitar 100-120 karung,” terangnya.
Namun hal ini berbeda pada MT II 2025,produksi gabahnya semakin meningkat karena persedian air yang cukup dan lancar.
“Pada MT II 2025 rata-rata petani disini senyum karena produksi gabahnya meningkat. Ada petani yang lahannya 1 hektar produksi gabahnya mencapai 150 karung bahkan ada yang sampai 170 karung. Ada petani yang memiliki lahan kurang dari 1/2 hektar bisa produksi gabah sampai 50 karung, ” tuturnya.
Kemudian untuk persedian pupuk, benih padi dan obat-obatan kata Bonifasius, kalau untuk benih padi disediakan oleh pemerintah setempat. Dan proses pembagian itu berdasarkan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok(RDKK)












