Iapun menilai dalam kurung waktu tiga tahun terakhir mulai dari 2021-2024 pengolahan lahan kering menggunakan traktor roda empat (TR-4)yang dijalankan oleh pemerintah sebelumnya tidak secara merata sehingga partisipasi masyarakat secara khusus petani lahan kering memilih untuk mengolah lahan secara manual.
“Hal ini juga akan berpengaruh terhadap tingkat produktivitas jagung yang semestinya petani memiliki lahan besar harus memanen hasil yang signifikan tapi karena sistem pengolahan yang notabene menguras energi seperti cangkul atau tofa akan berdampak pada hasil yang kurang maksimal,”ujarnya.
Dikatakannya,kenapa hal ini terjadi? Karena salahsatu alasan mendasar yaitu penyebaran TR-4 itu berdasarkan basis kepentingan politik.Alasan lainnya itu traktor rusak dan belum ada anggaran untuk memperbaiki.
“Dan ini menjadi poin krusial yang dihadapi oleh petani pada pemerintahan sebelumnya,”kata Selus
Lanjutnya, problem fundamental yang dihadapi oleh kaum petani seperti terurai diatas kini diperhatikan oleh pemerintahan saat ini yang di nahkodai oleh Bupati SBS dan Wakil Bupati HMS.












