Petrus mengaku, dalam proses pengolahan itu dirinya tidak mengeluarkan biaya satu peresnpun untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).
“Jadi,saya tidak keluarkan biaya untuk beli BBM karena semuanya sudah disediakan oleh pemerintah.Saya hanya siapakan tenaga untuk bekerja,” ungkapnya.
Petrus menuturkan, hasil dari olahan itu untuk masyarakat sendiri.
“Dan ini sangat menguntungkan bagi kami kaum petani lahan kering dimana kami sudah tidak mengeluarkan biaya tapi hasil olahannya untuk kami sendiri. Ini luar biasa, ” ujarnya.
Dengan luas lahan yang ada kata Petrus,intinya bisa makan- minum.
“Tapi kalau hasilnya bagusi bisa jual untuk kebutuhan keluarga.Tapi, kalau pas-pasan saja ya intinya bisa makan, ” pungkasnya.
Petrus menuturkan, pada musim panen, harga jagung biasanya menurun.
“Tapi kalau tidak musim, harga jagung biasanya mencapai Rp 5.000 sampai 7.000 per kilogram.
Tapi kalau saat musim panen, kisaran harga jagung itu Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per kilogram, ” ungkapnya.
Dikatakannya,kalau tanam jagung pada bulan November biasanya panen pada bulan Maret atau pertengahan April.














